Kegusaran Sastrawan Saat Memasuki Purnabakti Guru Besar di UNP

Padang, fbs.unp.ac.id - Selasa, 29 Desember 2020 Budayawan/Sastrawan Indonesia Prof. Dr Harris Efendi Thahar, M.Pd resmi menjalani upacara purnabakti sebagai seorang guru besar bidang Pendidikan Sastera Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP).

Rektor UNP Prof. Ganefri, Ph.D dalam upacara Purnabakti Guru Besar di kampus UNP Air Tawar Padang, dengan khusus meminta kepada sastrawan terkenal dengan Cerpen 'Si Padang' ini jangan berhenti berkarya, dan jika mengeluarkan sebuah karya jangan lupa mencantumkan nama UNP.

Harris Efendi Thahar, yang tahun ini genap berumur 70 tahun, selama 10 tahun belakangan menjadi guru besar di UNP. Dalam orasi kehormatannya, Harris Efendi Thahar, menyebutkan waktu 10 tahun jadi guru besar terasa sangat singkat. Dan boleh jadi tidak sebanding dengan perjuangan panjang dan berliku dirinya untuk menjadi profesor.

Betapa tidak. Dalam catatan Beritaminangcom, Harris Efendi Thahar, menjalani jalan panjang untuk bisa menjadi seorang guru besar. Ia harus bisa menamatkan progrom doktoral dalam usia kepala lima. Bahkan bila melihat ke belakang, Harris Efendi Thahar, harus menjadi seorang teknisi dulu dulu di Fakultas Pendikan Teknologi Kejuruan IKIP Padang (sekarang Fakultas Teknik UNP) dengan ijazah sarjana muda (B.Sc).

Barulah setelah ia melanjutkan kuliah S-1 di Jurusan Pendidikan Bahasa IKIP Padang dan selesai di tahun 1994, ia bisa mengajukan diri menjadi seorang dosen (staf pengajar). Tapi, itu tidaklah mudah.

"Meski almarhum Prof. Dr. Mursal Esten mengusulkan ia untuk jadi dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dewan dosen tidak serta merta menerima saya," katanya mengenang, dalam bincang khusus dengan Beritaminang, Selasa siang.

Disebutkan Harris Efendi Thahar, bila ia ingin diangkat jadi dosen, sebagian dosen meminta ia harus mengajukan lamaran dulu, baru dirapatkan dalam dewan dosen. Mendapat sanggahan itu, lagi-lagi Prof. Dr. Mursal Esten tabik rabo. "Kalau dia tidak melamar, justru kita yang melamar dia karena jurusan ini memerlukannya, karena dia adalah praktisi sekaligus akademisi."

Belakangan, kata Harris Efendi Thahar, usai rapat dewan dosen itu, Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia meminta menyiapkan berkas usulan menjadi dosen dari pegawai teknisi.

Muluskah setelah itu? Sama sekali tidak. Menurut Harris, butuh waktu lama proses, apalagi ada semacam konvensi, bahwa lulusan IKIP tidak bisa jadi dosen. Namun berkat dukungan dan kegigihan Prof. Dr. Mohd. Ansyar Rektor IKIP Padang kala itu, baru setahun kemudian di tahun 1995 ia resmi diangkat jadi dosen dalam usia 45 tahun.

Guna mengejar kepangkatan, ia kemudian melanjutkan studi pasca sarjana (S2) dan lulus tahun 2000 dalam usia 50 tahun. Harris sebenarnya tidak mau kuliah lagi, tapi Ketua Prodi S2 Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana UNP memintanya melanjutkan program doktoral.

"Saya terkejut, saat ini usai sudah 50 tahun, ditambah tiga anaknya sedang kuliah. Tentu saya membutuhkan beasiswa dan bisa tamat tepat waktu," kata mantan Ketua Dewan Kesenian Sumbar ini.

Dan setelah kepastian dapat beasiswa selama 6 semester untuk S-3, Harris melanjutkan kuliah di UNJ sejak tahun 2003 dan selesai tahun 2006.

"Jadilah saya lulusan doktor tertua kala itu," katanya mengenang.

Perlu waktu tiga tahun, bagi Harris untuk menyandang gelar profesor (November 2009).

Kini setelah 10 tahun jadi guru besar, ia harus menjalani purnabakti, meski ia masih bisa mengajar 10 tahun lagi, bila kampus masih membutuhkannya.

Mengakhiri pembicaraan, Harris mengemukakan obsesi dirinya yang belum kesampaian selama menjadi guru besar.

"Sebenarnya obsesi saya yang tidak kesampaian tidaklah berdiri sendiri. Ketika membaca draf disertasi mahasiswa S3 yang belepotan bahasanya, tidak mungkin disalahkan karena perolehan mata kuliah Bahasa Indonesianya di perguruan tinggi yang kurang," katanya.

Karena, sambung lelaki yang masih produktif menulis kolom di surat kabar ini, pembelajaran Bahasa Indonesia dimulai sejak SD. Mari kita sejenak menelusuri, bagaimana sebenarnya proses pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, sejak SD hingga SLTA, yang meliputi guru, kurikulum, proses belajar serta evaluasi.

"Hasil angket yang saya bagikan kepada guru Bahasa Indonesia tingkat SLTP dan SLTA se-Sumatera Barat 2016 lalu tentang evaluasi pembelajaran menulis, hanya 15% yang mengaku memeriksa karangan siswa. Selebihnya memberi nilai dengan melihat kerapian tulisan. Alasannya soal waktu dan banyaknya siswa," tambahnya.

Harris melihat, sudah waktunya kita mengevaluasi kurikulum Bahasa Indonesia di sekolah.

"Sekurang-kurangnya merevisi dan merapikan jalan untuk mencapai tujuan yakni, Bahasa Indonesiaa sebagai penghela ilmu pengatahuan," pungkasnya. (Je/MR)

Video