Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris Tampilkan Drama Oedipus The King dan Antigone

Kampus Selatan(15/12). Mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Inggris  jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP) menyelenggarakan ujian mata kuliah drama atau yang disebut juga Drama On Stage. Ujian yang diselengarakan pada Jumat (15/12) di Teater Tertutup Mursal Esten dihadiri tidak hanya oleh mahasiswa Bahasa Inggris tetapi juga oleh mahasiswa di luar Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris terutama penikmat drama.

Pada ujian drama ini, terdapat dua pertunjukan yang masing-masing dipersembahkan oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris konsentrasi Linguistik dan konsentrasi Sastra tahun masuk 2014. Kedua pertunjukan drama tersebut berjudul Oedipus The King dan Antigone. Kedua naskah tersebut sama-sama hasil karya Sophocles.

Resti Levia selaku sutradara dari  pertunjukkan drama Oedipus The King mengaku pemilihan naskah ini dilakukan oleh dosen pengampu. Selain itu, Levia menyebutkan, “Sebenarnya kisah Oedipus The King ini termasuk trilogy, ya. Naskah yang kami dapat merupakan kisah kedua. Kisah ini menceritakan kebenaran tentang Oedipus sendiri. Dikisahkan Oedipus membunuh ayahnya, King Laius, dan akhirnya menikahi ibunya sendiri. Padahal, Oedipus tidak tahu sama sekali tentang siapa yang ia bunuh dan nikahi.”

Disamping itu, Suci Mikeli yang juga merupakan sutradara pertunjukkan Antigone mengaku naskah yang dipilih merupakan naskah original berbahasa Inggris. “Sebenarnya naskah Antigone ini turunan dari kisah Oedipus TheKing. Antigone merupakan anak kedua dari Oedipus sendiri.”

Lebih lanjut, Dra. An Fauzia Rozani Syafei, M.A. yang juga dosen pengampu mata kuliah Drama On Stage menjelaskan, “Mata kuliah ini menurut saya sangat spesial. Pada mata kuliah ini, mahasiswa dituntut untuk dapat bekerja sama, menyatuka pemikiran, dan mampu bertenggang rasa kepada sesama. Dalam mata kuliah ini terdapat kelompok yang anggotanya terdiri atas 20-30an orang. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu menyatukan begitu banyak kepala yang seluruhnya berbeda pemikiran.”(Fitra Wahyudi)