Fakultas Bahasa dan Seni

Strive for Excellence

Selamat Datang di Website Resmi Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang

Pusat kajian Humaniora FBS UNP Gelar Diskusi Sastra

Setelah menyelenggarakan Pemberian Anugerah Sastra A.A. Navis beberapa bulan lalu, Pusat Kajian Humaniora Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP) menggelar diskusi sastra dan bincang buku. Diskusi sastra dan bincang buku kali ini mengulas karya Iyut Fitra pada buku kumpulan Puisinya yang berjudul Jalan ke Baromban. Tampil sebagai pembedah yaitu Prof. Dr. Hasanuddin WS., M.Hum., dan Dr. Ivan Adilla, M.Hum., dengan moderator Drs. Hermawan, M.Hum. Tampak hadir Dekan FBS UNP, Prof. Dr. M. Zaim, M.Hum., Wakil Dekan I dan III FBS, Ketua Pusat Kajian Humaniora, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Dosen, Sastrawan, Budayawan, dan mahasiswa memenuhi Ruang Teater tertutup Mursal Esten FBS UNP, Selasa (25/10).

Terlaksananya kegiatan diskusi sastra dan bincang buku ini berkat kerjasama Pusat Kajian Humaniora FBS dengan Komunitas Seni Intro Payakumbuh. Pukul 09.00 WIB, Dekan FBS UNP, Prof. Dr. M. Zaim memberikan sambutan yang menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pusat Kajian Humaniora FBS yang sudah tampil eksis memberikan banyak kontribusi untuk FBS UNP. Berkat kerjasama yang baik dengan Komunitas Seni Intro Payakumbuh diskusi sastra dan bincang buku terlaksana dengan baik. Lebih lanjut Prof. M. Zaim menyampaikan sebagai fakultas yang mengkaji perkembangan ilmu bahasa, sastra, dan seni, hadirnya Pusat kajian Humaniora FBS tidak hanya menyelenggarakan kegiatan akademik saja, akan tetapi kegiatan non-akademik juga diampu oleh pusat kajian Humaniora ini, seperti peluncuran novel, lomba aksara, dan juga pemberian anugerah A.A. Navis. “Harapannya, dengan bermunculan karya yang berkembang, dosen harus mampu menghadirkan karyanya atau mengkritisi karya orang lain baik itu karya non-ilmiah ataupun karya ilmiah untuk meningkatkan publikasi masing-masing”, terang Prof. Dr. M. Zaim.

Pembedah pertama kumpulan puisi Baromban karya Iyut Fitri, Bapak Dr. Ilvan Adilla, M.Hum., menulis makalah yang berjudul Menjelang Masa Lalu Sebuah Kota, Iyut bercerita dalam buku kumpulan puisi Baromban ini tampak kecemasan dan kehati-hatian Iyut terhadap fenomena perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat, dalam hal ini Iyut yang berdomisili di Payakumbuh, banyak sedikitnya Iyut menceritakan fenomena perubahan sosial masyarakat di Negeri payakumbuh. Bagaimana di zaman sekarang digambarkan susahnya menemukan transportasi bendi, mengangkut barang dengan pedati, dan suasa alam yang damai. Kecemasan yang digambar dalam kumpulan pusisi Baromban ini merupakan bentuk wujud nyata kritik sosial yang dilakukan Iyut untuk dilihatkan kepada pertanggungjawaban terkait untuk menindaklanjutinya. Sebagai seorang penyair Iyut sudah melakukan tugasnya.

“Baromban merupakan titik penting peralihan kreativitas Iyut Fitra setelah menulis sejak selama 30 tahun. Kenapa sekarang ia mencapai titik ini? Bisa jadi karena perubahan sosial di kotanya; tapi bisa jadi juga karena ia sekarang punya isteri dan anak yang membuat ia bersikap lebih hati-hati. Apapun penyebab perubahan itu, yang jelas antologi ini membuat sajak terkuat dari Iyut Fitri hingga kini,” jelas Bapak Ilvan.

Selanjutnya makalah yang ditulis oleh pembedah kedua Bapak Prof. Dr. Hasanuddin WS., M.Hum., dalam makalahnya yang berjudul Kepenyairan Iyut Fitra: Menjerat dan Dijerat Kata menjelaskan sajak-sajak Iyut Fitra adalah sajak-sajak berbahasa Indonesia dengan banyak sisipan kosa kata dan idiom Minang yang berorientasi pada nilai-nilai tradisi Minang. Pada kumpulan puisi Baromban sajak-sajak Iyut Fitra yang berbahasa Indonesia mengusung kegelisahan tentang tergusurnya bahkan berubahnya nilai-nilai tradisi Minang. “Sajak-sajak berbahasa Indonesia Iyut Fitra sarat dengan warna lokal Minang. Iyut Fitra berhasil menjerat kata dan idiom Minang ke dalam sajak-sajak berbahasa Indonesia”, ungkap Prof. Hasanuddin WS.

Iyut Fitra dalam kesempatan memberi sambutan mengucapkan terima kasih kerjasama yang baik dan partisipasi seluruh pihak yang ikut menyukseskan diskusi sastra dan bedah buku ini. Kesempatan itu juga Iyut Fitra menjelaskan bahwa perihal judul buku kumpulan puisi “Baromban” tersebut dipilihnya perihal kata yang baginya memiliki keambiguan makna. Baromban yang bermakna seperti sebuah kegiatan atau aktivitas penggalian pasir di sebuah bendungan, kemudian diartikan juga sebagai kata benda dan ada juga mengartikan baroban merupakan kata tempat. “Atas dasar keunikan makna Baromban itulah, kemenarikan yang tampak muncul dari kata tersebut mendasari Iyut Fitra memilih kata Baromban sebagai judul kumpulan puisinya”, tutup Iyut Fitra. (Jaya Nasa Perta)