BEM FBS UNP, Tularkan Keterampilan Bahasa Jurnalistik

Setelah dilantik tanggal 21 September lalu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP) menggelar acara seminar yang bertemakan Seminar Bahasa Jurnalistik (Sebaju). Acara yang diikuti oleh 250 orang ini diikuti oleh mahasiswa UNP dan mahasiswa di luar UNP seperti mahasiswa UPI Padang dan STKIP PGRI. Minggu (1/11).

Seminar yang dilaksanakan di Ruang Teater Tertutup FBS UNP ini merupakan seminar perdana yang dilaksanakan oleh BEM FBS UNP. Acara ini juga dilatarbelakangi oleh peringatti Bulan Bahasa pada bulan Oktober lalu. Sebagai fakultas yang membidangi ilmu bahasa dan seni, BEM sebagai perpanjangtangan fakultas adalah wadah yang bertanggungjawab dalam hal kegiatan kemahasiswaan. Hal ini senada dengan yang dikatakan Indra Gunawan, Ketua BEM FBS UNP, ia mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan semina perdana yang dilakukan oleh BEM FBS UNP. Pentingnya peran jurnalistik sebagai media komunikasi masyarakat menjadi hal yang harus diketahui oleh mahasiswa. “Untuk itulah, melalui tahap awal ini, kami neghadirkan seminar tentang bahasa jurnalistik, semoga dengan seminar ini mahasiswa mempunyai bekal dasar tentang dunia jurnalistik”, ungkapnya.

Mewakili Wakil Dekan III FBS UNP, Drs. Esy Maestro, M.Sn., yang berhalangan hadir karena ada acara lain di Kota Bukttinggi, Ketua BEM, Indra Gunawan, membuka acara ini secara resmi. Yudha Raeyfaldo mahasiswa jurusan Seni Rupa sebagai ketua panitia acara juga turut memberikan kata sambutan dalam seminar tersebut. Pada sambutannya ia mengucapkan terima kasih kepada rekan panitia dan peserta yang turut andil dalam menyukseskan acara ini. Tanpa dukungan dan kerjasama yang baik dari kita semua, acara ini tidak akan bisa terlaksana dengan baik. “Semoga acara ini bisa memberikan manfaat untuk kita semua, dan selamat mengikuti seminar Suksesnya acara ini berarti suksesnya kita semua,” tutur Yuda.

Seminar ini berhasil mendatangkan pemateri yang berkompeten dalam dunia jurnalistik. Dua orang pemateri yang didatangkan yaitu, Novrizal Sadewa, M.Pd., wartawan yang sudah berlalu lalang di media Jakarta Pos, Metro TV, antv, Majalah Gatra, dan sekarang menjadi dosen Jurnalistik di UNP. Kemudian Muhammad Syubhan,  seorang Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, dan juga sekarang menduduki posisi Redaktur Budaya Harian Rakyat Sumbar (Jawa Pos Group).

Novrizal Sadewa memaparkan materi berkaitan tentang bahasa dalam jurnalistik. Dalam pemaparannya ia menyampiakan bahwa bahasa jurnalistik adalah gaya bahasa yang digunakan oleh wartawan dalam menulis berita. Bahasa jurnalistik disebut juga dengan bahasa komunkasi massa (language of mass communication), dengan ciri khas singkat, padat dan mudah dipahami. Novrizal Sadewa negtakan bahwa banyak sekali kita menemukan penggunaan bahasa yang salah dalam media massa. Kesalahan tersebut yaitu karena terjadi penyimpangan dengan kaidah kebahasaan yang benar. “Untuk itu perlu rasanya peran seorang editor bahasa dalam sebuah media, untuk mengkoreksi bahasa yang digunakan dalam sebuah media sebelum angkat cetak”, jelas Novrizal Sadewa.

Pemateri kedua, Muhammad Syubhan, memaparkan bahwa profesi wartawan menjadi profesi yang diinginkan oleh setiap orang, bagaimana tidak wartawan adalah pekerjaan yang mulia, karena seorang wartawan pada hakikatnya menyampaikan sesuatu hal yang bermanfaat kepada orang banyak, yaitu menyampaikan informasi. Misalnya kejadian musibah di Minna tempo lalu, ketika trane jatuh, beberapa menit, atau jam setelah kejadian tersebut, berita atau informasi kejadian itu bisa diketahui oleh banyak orang di segala penjuru dunia. Itu sebabnya wartawan adalah pekerja sesosok yang mulia. Mana tau diantara kita semua mempunyai minat dan tertarik di bidang jurnalistik atau menjadi seorang wartwan.

Wartawan adalah profesi yang diibaratkan setingkat dibawah presiden dan setingkat di atas tukang becak. Untuk itu seorang wartawan mempunyai posisi tertentu dan tidak bisa ditebak dalam kehidupan masyarakat. Suka duka perjalanan menjadi seorang wartawan sudah dilaluinya dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Di penutupan pemaparannya, ia menutup dengan sebuah kata bijak “Kalau ingin mengenal dunia, maka membacalah. Tapi, jika ingin dikenal dunia, maka menulislah”, tutup Muhammad Syubhan. (Jaya Nasa Perta)